1. تَعَلَّمُوْاالْعِلْمَ ، فّإِنَّ تَعَلُّمُهُ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَتَعْلِيْمَهُ لِمَن ْ لاَ يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَإِنَّ الْعِلْمَ لَيَنْزِلُ بِصَاحِبِهِ فِى مَوْضِعِ الشَّرَفِ وَالرِّفْعَةِ ، وَالْعِلْمُ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ فِى الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ . (الربيع)
“Tuntutlah ilmu,sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.” (HR. Ar-Rabii’)
2. يَا أَبَاذَرٍّ ، لَأَنْ تَغْدَوْا فَتُعَلِّمَ اَيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكَ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ، وَلَأَنْ تَغْدُوْا فَتُعَلِّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ اَوْ لَمْ يُعْمَلْ ، خَيْرٌ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ . (ابن ماجة)
“Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu dari pada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari pada shalat seribu rakaat.” (HR. Ibn Majah)
3. تَعَلَّمُوْا الْعِلْمَ وَتَعَلَّمُوْا لِلْعِلْمِ السَّكِيْنَةَ وِالْوَقَارَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ . (الطبرانى)
“Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu.” (HR. Al-Thabrani)
Sabtu, 24 Desember 2011
Selasa, 22 November 2011
Jeritan anak jalanan
Di kolong-kolong jembatan aku..
Bersenandung mengharap belas kasihmu..
Pandanganku yang kian hampa..
Sesuap nasi pun tak kunjung tiba..
Bersenandung mengharap belas kasihmu..
Pandanganku yang kian hampa..
Sesuap nasi pun tak kunjung tiba..
Melihat mu aku tak peduli..
Bukan wakil rakyat tikus berdasi..
Bukan wakil rakyat tikus berdasi..
Aku memang mlarat..
Bukan seperti tikus keparat..
Yang doyan uang rakyat..
Haus harta bak lintah darat..
Bukan seperti tikus keparat..
Yang doyan uang rakyat..
Haus harta bak lintah darat..
Masih terdengar jeritan dan tangisan..
Dari anak kolong jembatan..
Kau butakan matamu..
Kau tulikan telingamu..
Dari anak kolong jembatan..
Kau butakan matamu..
Kau tulikan telingamu..
Takut kehilangan harta itu sifatmu..
Takut kehilangan kehormatan pun sifatmu..
Kau lebih rela korbankan rakyat..
Hanya demi se onggok martabat..
Takut kehilangan kehormatan pun sifatmu..
Kau lebih rela korbankan rakyat..
Hanya demi se onggok martabat..
Kau picik..
Kau pun licik..
Kau pun licik..
Di kolong jembatan aku..
Di jalanan kukais keberuntunganku..
Di jalanan kukais keberuntunganku..
Kau tak datang aku bangga..
Tak mengenal mu pun aku lega..
Tak mengenal mu pun aku lega..
Jumat, 01 Juli 2011
MAHASISWA adalah orang yang memiliki pendidikan lebih tinggi dibandingkan yang lain sehingga masyarakat menganggapnya orang yang mampu menyampaikan aspirasi suara hatinya. Ada beberapa fungsi atau peran mahasiswa, menurut Ridarmin S.Kom, M.Kom, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi strategis, yaitu sebagai penyampai kebenaran (agent of social control), sebagai agen perubahan (agent of change), dan sebagai generasi penerus masa depan (iron stock).
Fungsi mahasiswa ini memang terealisasi pada zaman dulu ketika Indonesia masih dalam masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan. Kita pasti ingat ketika tahun 60-an mahasiswa melakukan aksi mengusung tiga tuntutan rakyat (Tritura). Pada 1974 kita juga ingat peristiwa “Malari” (malapetaka 15 Januari), dan terakhir pada 1998 mahasiswa berhasil “meruntuhkan” orang paling berpenguasa di Indonesia selama 32 tahun. Kepemimpinan pemerintah yang sewenang-wenang akhirnya dapat diruntuhkan oleh aksi yang sangat heroik oleh para mahasiswa di seluruh penjuru Indonesia.
Fungsi mahasiswa ini memang terealisasi pada zaman dulu ketika Indonesia masih dalam masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan. Kita pasti ingat ketika tahun 60-an mahasiswa melakukan aksi mengusung tiga tuntutan rakyat (Tritura). Pada 1974 kita juga ingat peristiwa “Malari” (malapetaka 15 Januari), dan terakhir pada 1998 mahasiswa berhasil “meruntuhkan” orang paling berpenguasa di Indonesia selama 32 tahun. Kepemimpinan pemerintah yang sewenang-wenang akhirnya dapat diruntuhkan oleh aksi yang sangat heroik oleh para mahasiswa di seluruh penjuru Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
